Kemandirian Menghadirkan Rindu Hangatnya Sebuah Kebersamaan
Panggil saja aku Na, karena begitulah sapaan akrab teman terdekatku. Mungkin kamu akan menjadi salah satu teman setiaku. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadan kali ini terasa sangat berbeda bagiku. Terlebih memang, pandemi virus corona yang sudah berdampak memberi sederet permasalahan di berbagai sektor kehidupan. Tapi, bukan itu yang berbeda. Kini, Ramadan tahun ini, harus kunikmati sendiri.
Aku adalah anak tunggal yang tak pernah tinggal bersama kedua orangtua sejak kecil. Aku dibesarkan bersama paman bibi dan ketiga sepupuku. Tapi itu tak khayal membuatku berhenti bersyukur. Setiap Ramadan pasti akan menjadi momen istimewa bagi kami. Aku akan menjadi manusia yang paling susah dibangunkan saat sahur. Aku akan uring-uringan terlebih dahulu sebelum sampai di meja makan. Itu pun, bisa makan ketika orang lain sudah bubar dan beranjak untuk menyikat gigi mereka. Karena waktu sudah sangat sempit menuju waktu imsyak. Bibi marah. Tentu saja. Mungkin dia sudah bosan mengomeli aku yang sangat sulit untuk bangun.
Begitu pun dengan momen buka, rasanya anggota keluarga lain tak ada yang seheboh diriku. Saat yang lain masih murojaah selepas ashar atau menambah lanjutan ayat suci Al-Qur'an mereka, aku sudah bergegas untuk membeli sayuran dan memasak. Alasannya satu, waktu tersebut perutku sudah hampir meronta-ronta. Dan ketika nanti mencium aroma masakkan sudah sedikit lebih terobati rasanya. Ada-ada saja. Semua menu pasti aku yang harus mengolahnya, sampai hal terkecil pun berupa dessert dan minuman pembuka aku tata dengan sangat rapi di meja makan. Dan momen ketiga adalah salat tarawih. Aku paling tak bisa ketinggalan salat tarawih. Meski yang lain sudah kendor semangatnya aku pasti akan selalu berangkat ke masjid meskipun itu sendiri. Meskipun hujan badai sampai bibi memarahiku, aku tak peduli, karena bagiku, tak akan ada tarawih di bulan lain kecuali di bulan istimewa ini.
